Reunian Magelang & Jogja Day 2 – Punthuk Setumbu & Ullen Sentalu

Postingan sebelumnya telah menceritakan hari pertama pada reunian alumni sekelas Semesta lustrum 2, yakni mengunjungi rumah teman-teman kami di Magelang. Pada hari selanjutnya, kami jalan-jalan ke Punthuk Setumbu dan Ullen Sentalu.

  • Punthuk Setumbu

Sunrise di Punthuk Setumbu

Tujuan jalan-jalan pertama kami yaitu ke Punthuk Setumbu, sebuah bukit yang terletak sekitar 5 km dari Candi Borobudur. Akhir-akhir ini tempat tersebut memang cukup terkenal dan menarik banyak wisatawan dan turis karena pemandangannya yang sangat keren. Kami bela-belain berangkat jam 4 pagi demi mengejar sunrise di sana. Yah tapi tidak sia-sia, kami akhirnya bisa menyaksikan indahnya mentari terbit di sela-sela gunung Merapi dan Merbabu yang masih berbalut kabut. Candi Borobudur juga terlihat dari sana. Sayangnya kami cuma motret pake HP kamera, jadi kurang maksimal.

Dari situ, kami sekalian berjalan mengikuti jalan setapak menuju Gereja Bukit Merpati. Memang bangunan ini cukup unik, berbentuk seperti merpati yang memakai mahkota. Setelah puas kami pun sarapan dan melanjutkan jalan-jalan ke  Jogja. Sedangkan Qoni abla kembali ke rumahnya.

Punthuk Setumbu Continue reading

Reunian Magelang & Jogja Day 1 – Family Visit

Reunian di Rumah Etka Anne

Lima tahun yang lalu, saya dan teman-teman alumni sekelas Semesta mengadakan reuni di Jogja. Tahun ini pada tanggal yang sama, kami reunian lagi. Hanya saja dengan anggota yang lebih sedikit, tetapi ditambah keluarga baru 🙂

Sabtu, 1 Agustus 2015 jam 5 pagi, saya sudah get ready untuk ke Stasiun Solo Balapan. Jam 6.15, Joglo Ekspress yang saya naiki meluncur menuju Jogjakarta.

  • Concat

Bukan, ini bukan fungsi untuk menggabungkan string (concatenation). Ini adalah singkatan dari Condong Catur, sebuah daerah di Jogjakarta tempat kediaman Sunni dan istrinya berada. Sekitar jam 7.30 saya dijemput Sunni di Lempuyangan dan mampir dulu ke sana untuk sarapan. Lorenz sudah ada di sana, karena keretanya dari Jakarta sudah tiba jam 6 pagi.

Dari sana kami pun bersiap-siap menuju Magelang dengan motor. Sunni berboncengan dengan Dian, belahan jiwanya. Sedangkan saya bersama Lorenz menggunakan motornya Dian. Petualangan geng motor pun dimulai..

  • Etka Anne

Tujuan pertama kami adalah rumah suaminya Utami (Taqwim abi, alumni semesta juga). Qonitina sang penguasa Magelang juga ke sana langsung dari rumahnya. Di situ lah kami bertemu Akhmad Etka Avicenna, ponakan baru kami yang baru berumur 1 bulan. Karena itu lah Utami punya julukan Etka Anne (ibunya Etka). Akhirnya semua anggota reuni kali ini pun komplit: Hendra, Sunni, Dian, Lorenz, Qoni, Utami, Etka. Continue reading

Krakatau, Gunung di Tengah Lautan

jalan2_krakatau

Pada Sabtu-Minggu kemarin, saya dan teman-teman berpetualang ke Krakatau. Ini menambah satu lagi list wisata pulau di Lampung yang saya jelajahi, setelah Kiluan dan Pahawang. Yang menarik dari tempat ini yaitu kita tidak hanya dimanjakan dengan bermain air dan melihat pesona laut, tetapi juga bisa mendaki gunung. Kami naik kapal dari dermaga Canti, dermaga di Lampung yang paling dekat dengan Krakatau yang berada di selat Sunda.

Snorkelling

Sebagaimana halnya di pulau-pulau lain di sekitaran Lampung, ada banyak sekali spot untuk snorkelling. Pada hari pertama kami snorkelling di dekat pulau Sebuku. Sedangkan hari kedua di Lagoon Cabe. Saat kami melihat ke dalam permukaan laut, terlihat banyak sekali terumbu karang yang dikelilingi ikan-ikan yang bergerombol. Ikan di sini jenisnya cukup banyak dan warna-warni. Di sini saya baru belajar cara menarik ikan-ikan saat snorkelling, yakni dengan roti. Cukup dengan menggenggam roti, maka ikan-ikan akan datang mendekati tangan kita, dan mematuk-matuk seakan udah tiga hari tiga malam nggak makan. Sensasinya geli-geli gitu, semacam terapi ikan.

memberi makan ikan

Menikmati Pantai Continue reading

Warso Farm: Surganya Duren Mania

warso farm

Pekan lalu saya dan rekan-rekan kerja mengunjungi sebuah kebun duren yang bernama Warso Farm. Letaknya di daerah Cihideung, Cijeruk, Kab. Bogor. Tempat ini mudah dikenali karena ada monumen durian yang gede banget di depannya. Nama Warso Farm sendiri diambil dari nama perintisnya, Pak Soewarso Pawaka, seorang pensiunan TNI. Maka tak heran di berbagai area di kebun ini banyak terdapat kata-kata motivasi dan penggugah semangat.

pohon duren

Musim panen durian biasanya pada bulan Januari – Maret, sehingga saat kami ke sana belum banyak pohon yang berbuah. Tapi tenang saja, karena di sini sudah tersedia banyak stok durian yang siap dihajar. Kita bisa memilih sendiri durian yang akan dimakan, dan mencicipinya sebelum dibuka. Sebagai penikmat durian tentu saja tempat ini sangat menyenangkan bagi saya, hahaha.. Saya berhasil menghabiskan cukup banyak buah durian. Kadang saya heran kok ada yang tidak suka durian ya, padahal enak banget lho :p. Memang sih kata temen saya, ada 2 tipe orang di dunia ini, yang sangat doyan durian dan sangat benci durian, hahaha..

Bagi yang ingin menikmati durian langsung dari kebunnya, mungkin bisa dicoba ke tempat ini.. Harganya rata-rata 45k IDR per kilogram. Ya memang buah gaul ini cukup menguras dompet, tapi sebanding lah dengan kelezatan yang diperoleh *apalagi kalo dibayarin 🙂

Sekian. Salam duren ^^

makan duren

Muncak Papandayan

 

Pada Sabtu-Minggu yang lalu, saya dan teman-teman kemping di Gunung Papandayan (Persami dong :P). Ini adalah gunung kedua yang sudah saya jelajahi setelah Gn. Gede. Saya berangkat naik mobil dari Jakarta pada Jumat tengah malam, dan tiba di Cisurupan sekitar jam 4 pagi. Kami pun parkir di sebuah masjid di sana. Selanjutnya, kami sholat dan istirahat sambil menunggu peserta Persami lainnya yang dari Bandung. Sekitar jam 8 pagi, kami semua sudah berkumpul. Totalnya kami terdiri dari 17,5 orang. Yang satu diitung setengah soalnya masih anak-anak umur 3 tahun, hehehe.. Setelah sarapan dan repacking, kami pun siap berangkat.

Dari masjid, kami naik pickup menuju Camp David. Di sini, para pendaki harus registrasi. Bagi yang belum makan, di sini ada banyak warung buat mengganjal perut dan menyiapkan energi. Setelah berdoa, kami pun mulai mendaki. Di awal pendakian, kita akan melewati area kawah. Jalanannya agak kering, banyak batu kuning, berasap, dan bau belerang cukup terasa di sini.

Foto-foto dulu di Camp David

Foto-foto dulu di Camp David

Setelah sekitar 1,5 jam berjalan, kita pun tiba di pos Lawang Angin. Di sini kita perlu lapor lagi. Di belakang Lawang Angin, sebenarnya ada salah satu pilihan tempat kemping yaitu Gober Hut. Namun, tujuan kami bukan ke sana. Perjalanan berlanjut, dari situ kami melewati jalur yang agak mendaki dan penuh tanaman di kanan kiri.

Sekitar jam 1 siang, akhirnya kami pun tiba di Pondok Saladah. Ini adalah tempat favorit bagi para pendaki untuk mendirikan tenda. Kami pun segera mencari spot yang luas agar muat untuk 5 tenda. Setelah tenda jadi semua, kami pun istirahat, masak, dan makan. Berhubung sore itu hujan, jadi kami gak kemana-mana. Saya sih mengisinya dengan bikin api unggun dan main kartu bersama teman-teman, hehehe..

Keesokan harinya, kami berencana menuju puncak Papandayan. Jam 5 pagi kami berangkat. Kali ini kecepatan geraknya serasa lebih cepat karena barang-barang ditinggal di tenda. Di awal perjalanan, ternyata kelompok kami terpisah ke 2 jalur yang berbeda. Beberapa menuju jalur yang ‘mainstream’, yakni melewati Hutan Mati. Sedangkan saya bersama 9 orang ternyata menggunakan jalur yang langsung menuju Tegal Alun. Jalur ini lebih terjal dan agak licin. Continue reading