Muncak Papandayan

 

Pada Sabtu-Minggu yang lalu, saya dan teman-teman kemping di Gunung Papandayan (Persami dong :P). Ini adalah gunung kedua yang sudah saya jelajahi setelah Gn. Gede. Saya berangkat naik mobil dari Jakarta pada Jumat tengah malam, dan tiba di Cisurupan sekitar jam 4 pagi. Kami pun parkir di sebuah masjid di sana. Selanjutnya, kami sholat dan istirahat sambil menunggu peserta Persami lainnya yang dari Bandung. Sekitar jam 8 pagi, kami semua sudah berkumpul. Totalnya kami terdiri dari 17,5 orang. Yang satu diitung setengah soalnya masih anak-anak umur 3 tahun, hehehe.. Setelah sarapan dan repacking, kami pun siap berangkat.

Dari masjid, kami naik pickup menuju Camp David. Di sini, para pendaki harus registrasi. Bagi yang belum makan, di sini ada banyak warung buat mengganjal perut dan menyiapkan energi. Setelah berdoa, kami pun mulai mendaki. Di awal pendakian, kita akan melewati area kawah. Jalanannya agak kering, banyak batu kuning, berasap, dan bau belerang cukup terasa di sini.

Foto-foto dulu di Camp David

Foto-foto dulu di Camp David

Setelah sekitar 1,5 jam berjalan, kita pun tiba di pos Lawang Angin. Di sini kita perlu lapor lagi. Di belakang Lawang Angin, sebenarnya ada salah satu pilihan tempat kemping yaitu Gober Hut. Namun, tujuan kami bukan ke sana. Perjalanan berlanjut, dari situ kami melewati jalur yang agak mendaki dan penuh tanaman di kanan kiri.

Sekitar jam 1 siang, akhirnya kami pun tiba di Pondok Saladah. Ini adalah tempat favorit bagi para pendaki untuk mendirikan tenda. Kami pun segera mencari spot yang luas agar muat untuk 5 tenda. Setelah tenda jadi semua, kami pun istirahat, masak, dan makan. Berhubung sore itu hujan, jadi kami gak kemana-mana. Saya sih mengisinya dengan bikin api unggun dan main kartu bersama teman-teman, hehehe..

Keesokan harinya, kami berencana menuju puncak Papandayan. Jam 5 pagi kami berangkat. Kali ini kecepatan geraknya serasa lebih cepat karena barang-barang ditinggal di tenda. Di awal perjalanan, ternyata kelompok kami terpisah ke 2 jalur yang berbeda. Beberapa menuju jalur yang ‘mainstream’, yakni melewati Hutan Mati. Sedangkan saya bersama 9 orang ternyata menggunakan jalur yang langsung menuju Tegal Alun. Jalur ini lebih terjal dan agak licin.

Setelah beberapa lama menjelajah, akhirnya kami tiba di Tegal Alun. Tempat ini merupakan padang Edelweiss yang sangat luas dan indah. Biasanya, tujuan utama para pendaki Papandayan hanya sampai di Tegal Alun. Tidak semua tertarik untuk lanjut menuju puncak karena memang tidak ada yang menarik untuk diihat di situ. Tapi kami tetap ingin melanjutkan ke puncak karena penasaran.

Narsis dulu aah.. :P

Narsis dulu aah.. 😛

Untuk ke puncak, kita akan melewati mata air. Dari situ pemandangannya sangat bagus. Di satu sisi terlihat padang Eidelweiss di Tegal Alun. Di sisi seberangnya terlihat pohon-pohon mati berkabut yang nuansanya kayak lagi di Hogwarts 😛

Meskipun hanya sekitar 2 km dari Tegal Alun, ternyata perjalanan ke puncak lumayan melelahkan karena cukup terjal dan banyak rintangan. Sepanjang perjalanan, kami beberapa kali menemukan ‘puncak bayangan’. Maksudnya, kirain sudah puncak, ternyata bukan. Dari puncak bayangan ini, kita bisa melihat suasanya bagian bawah Papandayan, walaupun kadang sering tertutup kabut. Jika kabutnya tebal, seakan-akan kita melihat laut.

Finally, kami pun tiba di puncak. Tandanya kalo itu puncak beneran, ya karena memang ada tulisannya, hehehe.. Ternyata benar, tidak ada yang bisa dilihat di situ karena sekelilingnya hanya hutan.. Di puncak akhirnya kami bertemu kembali dengan teman-teman yang terpisah tadi. Setelah foto-foto, kami pun turun menuju Tegal Alun, lalu kembali ke tenda di Pondok Saladah.

Foto bareng lagi di puncak

Foto bareng lagi di puncak

Kali ini pake jalan yang melewati Hutan Mati. Di sini tanahnya agak putih dan sesuai namanya, banyak pohon-pohon kayu yang sudah mati. Dari situ tenda kami sudah terlihat meskipun masih agak jauh. Kami tiba di Pondok Saladah kembali sekitar jam 10. Lalu kami masak-masak, makan, dan bongkar tenda. Sekitar jam 12, kami turun gunung.

Yak, demikian kisah kami hiking di Papandayan. Sampai jumpa di gunung-gunung selanjutnya 🙂

Advertisements

One comment on “Muncak Papandayan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s