Tragedi Kunci Raib

Ceritanya Sabtu kemaren saya ke Depok buat ikut arisan alumni SMA saya. Tapi bukan acara arisan ini yang mau saya bahas, tapi kejadian setelahnya. Malam itu, setelah arisan selesai saya menginap di kosan Anas yang notabene mahasiswa UI. Nginepnya bareng Sunni dan Teguh.

Minggu siang saya dan Sunni kembali ke Jakarta naik kereta. Setelah turun di Stasiun Sudirman, kami berpisah. Sekitar jam 12 siang saya akhirnya tiba di kosan. Namun untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak, ternyata saya tidak menemukan kunci kosan saya.

Untung saja ibu kost saya menyimpan kunci cadangannya, jadi saya langsung menelpon beliau. Wah, ternyata beliau tidak sedang di kosan dan baru kembali besok paginya. Nahloh, gak bisa masuk kamar donk saya..

kunci

Usaha selanjutnya adalah menemukan kunci yang raib. Saya periksa di seluruh bagian tas dan baju, nihil. Saya pun mengungsi ke masjid dekat kosan saya, lalu menghubungi Anas untuk mencarikan kunci tersebut. Curiganya tuh kunci memang tertinggal di kamar Anas. Ternyata Anas sedang pergi, jadi saya pun menunggu sampai dia kembali. Saya begitu yakin kuncinya bakal ketemu sehingga saya tetap menunggu di masjid. Jika kuncinya nanti ketemu, saya siap dah buat bolak-balik ke Depok lagi.. Daripada jadi gelandangan tanpa tempat tinggal, hihihi…

Anas pun akhirnya kembali ba’da ashar. Setelah mencari-cari di seisi kamar, dia mengabarkan bahwa tidak ada kunci yang tertinggal. Saya pun meminta lagi untuk mencari dan memberikan ciri-ciri kunci saya. Namun, tetap saja, kuncinya tidak ketemu..

Jederrrr, resmi lah saat itu saya beneran jadi gelandangan…

Untung saja gelandangannya cuma untuk semalam, hehehe. Langkah selanjutnya yang saya ambil tentu saja mencari tempat menginap untuk malam itu. Sudah ada beberapa kawan yang saya hubungi, berikut daftarnya:

Calon tumbal 1: Dimas
Pilihan pertama jatuh pada Dimas, karena kosan dia deket sama saya. Setelah saya telepon, ternyata dia masih di rumahnya di Bekasi, dan baru kembali ke Jakarta larut malam. Waduh, mau ngapain aku nungguin sampe malem? ngepel masjid?!?! Sempat terpikir buat main-main ke mall atau nonton di bioskop gitu. Tapi ogah ah, gak seru kalo sendiri, cuma buang-buang duit. Lagian sedang kurang tidur, jadi penginnya tidur cepet.
Kesimpulan: FAIL.

Calon tumbal 2: Lutfi
Lutfi adalah teman saya di kantor yang cukup deket (kosannya 😛 ). Tapi saat saya telepon, ternyata tidak diangkat. Belakangan dia memberitahu kalo saat itu dia lagi tidur. Okee..
Kesimpulan: FAIL lagi.

Calon tumbal 3: Akbar
Yah, meskipun kosan Akbar susah ditempuh dengan jalan kaki, tapi biarlah.. Masih cukup deket ini, di daerah Kuningan juga. Namun ternyata, saat itu dia sedang sakit flu berat.. Emang sih, lagi musim sakit ini… Wah, kalo aku nginep di sana, banyak virus bertebaran. Bisa-bisa ketularan.. Cepat sembuh ya Bay..
Kesimpulan: Aku ingin sehat. FAIL.

Calon tumbal 4: Sunni
Kosan Sunni dan Imam adalah pilihan selanjutnya. Sebenarnya kalo gak kepaksa saya juga agak males kalo nginepnya di sana, jauh je. Tapi ya bagaimana lagi. Akhirnya kosan mereka available buat saya tumpangi.
Kesimpulan: MISSION ACCOMPLISHED.

Nah, akhirnya malam itu saya pun menginap di Hotel Sunnimam (opo iki). Dan paginya saya sukses kembali ke kamar tercinta setelah minta kunci cadangan ke ibu kost. And finally, happily ever after.. *halah

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s