Tanamlah Padi, Maka Rumput Pun Akan Kau Dapat

Salah satu pepatah yang menjadi salah satu prinsip hidup saya yaitu:

Jika kau menanam padi, maka rumput juga akan ikut tumbuh.

Namun jika kau menanam rumput, jangan harap akan tumbuh padi.

Ya, pepatah ini memang cukup terkenal, terutama biasanya disampaikan oleh para ustadz dan mubaligh. Terdapat makna yang mendalam dari pepatah tersebut. Rumput diartikan sebagai kepentingan dunia, seperti harta, jabatan, ketenaran, dll. Sedangkan padi berarti urusan akhirat dan spiritual, seperti ridha Allah, pahala, surga, dsb. Jadi sesuai pepatah di atas, jika kita hanya mengejar kesenangan dunia, maka hanya dunia yang kita dapatkan. Sedangkan jika apapun yang kita perbuat diniatkan untuk akhirat, maka dunia dan akhirat pun insyaa Allah akan ada di tangan kita.

Lantas, berarti kita harus sholat terus, ngaji terus, berdoa terus.. Gak usah sekolah, gak usah kerja, gak usah main gitu?!

Tentu saja tidak..

Ingat, ibadah bukan hanya berupa ritual seperti sholat, puasa, membaca Al-Quran, dsb. Namun, apapun yang kita lakukan sehari-hari juga dapat bernilai ibadah di mata Allah. Semua itu bergantung NIAT. Ya, innamal a’maalu binniyaat – sesungguhnya amal perbuatan itu tergantung dari niat. Artinya, suatu perbuatan yang sama tetapi niatnya berbeda, ya hasilnya akan berbeda pula.

Kita sekolah, dari TK, SD, SMP, SMA, bahkan hingga kuliah. Jelas kalo ditanya tujuannya, pasti untuk belajar, menuntut ilmu, mengembangkan, diri dsb. Jika seseorang giat dan rajin belajar, tetapi sebatas agar lulus, agar memperoleh nilai tinggi, apalagi kalo cuma ingin dipuji dan dihargai.. Maaf, hanya itu yang dia dapat. Ilmu yang dia kejar itu hanya berguna untuk dirinya sendiri. Beda dengan orang yang belajar karena haus akan ilmu pengetahuan, ingin memahami kebenaran, berniat untuk berbagi dan memanfaatkan ilmunya untuk kesejahteraan orang lain, insyaa Allah ilmunya tidak akan sia-sia dan akan membawanya menuju derajat yang lebh tinggi.

Kita aktif di berbagai organisasi, dari yang lingkup kecil hingga skala nasional. Oke, itu bagus untuk meningkatkan softskill, baik skill komunikasi, problem solving, hingga kepemimpinan. Namun, bagaimana jika semua itu dilakukan hanya sekedar ingin eksis, dikenal, dan dicap sebagai aktivis? Atau level yang lebih tinggi, agar nantinya didukung menjadi pemimpin lalu menjadi penguasa dan ujungnya  menyalahgunakan kekuasaannya itu untuk kesenangannya sendiri. Lihat saja, kepemimpinan dia pasti rapuh dan mudah digoyahkan. Oleh karena itu, niatkan apa yang kita kejar itu karena Allah. Niatkan menjadi pemimpin demi kesejahteraan anggotanya dan bawa mereka menjauhi jalan yang menuju maksiat. Niscaya apapun nanti cobaan yang datang, Allah akan tetap melindungi dan menjaga kita.

Kita bekerja, mencari rezeki yang halal agar dapat memperoleh kehidupan yang layak. Namun jika seseorang hanya asyik mengejar materi, pengin cepet sukses, berusaha memperoleh gaji segede-gedenya, memperoleh jabatan setinggi-tingginya, ingin dipandang hebat oleh rekan-rekannya. Namun di balik itu, dia melupakan kepentingan akhirat, menomorduabelaskan sholat, gak pernah sedekah. Naudzubillaahi min dzalik. Ya hanya itu yang dia dapat, dan biasanya orang yang seperti ini tidak pernah merasa puas, ingin lebih dan lebih. Lain cerita jika kita bekerja dengan tujuan agar bermanfaat bagi orang lain. Dan yang terpenting, ikhlas demi mengharap ridha Allah. Tidak terlalu mempedulikan gaji dan jabatan, yang penting sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Maka tidak diminta pun, materi akan datang dengan sendirinya. Kebahagiaan dan ketenangan hati pun akan senantiasa melingkupi kehidupan kita, aamiin.

Nah, masih banyak hal lain yang kita lakukan di dunia ini. Semoga kita diberi hidayah agar konsisten melakukan semua itu demi akhirat, bukan semata-mata untuk kesenangan diri sendiri di dunia saja. Ingat, kejarlah akhirat dan dunia pun akan mengikuti!!

Sekian, semoga bermanfaat dan terima kasih.. 😀

NB: Dengan adanya tulisan ini saya berharap jika suatu saat saya menyimpang dari prinsip ini (semoga tidak), saya mohon untuk dapat diingatkan. Bagaimana pun, kita adalah manusia yang tidak lepas dari khilaf dan dosa.

Salam.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s