IsEF Part I: Motivasi Membaca dari Pak Taufiq Ismail

Hari ini (22Mei2010) cukup memberi senyum bagiku..
Ketika kubuka mata pagi ini.. Nikmat rasanya udara yang kuhirup.. Tiada ,lagi tugas besar.. UAS juga tinggal satu… Meskipun itu adalah ujian pada mata kuliah yang benar-benar-benar susah dimengerti materinya. Namun berhubung katanya soalnya pilihan ganda ya, cukup pake kemeja berkancing aja lah saat mengerjakan.. *pasrah mode: on*

Meskipun seharusnya menjadi hari yang santai, aku tetap ke kampus karena memang masih ada acara.. Jam 10 pagi ke selasar programming IF-ITB, untuk menghadiri rapat inovator (divisi inovasi HMIF). Rapat untuk pemberian tugas selama liburan. Tapi bukan ini yang akan aku bahas di postingan ini.. Melainkan setelahnya, selesai rapat saya ke aula barat untuk mengikuti rangkaian acara IsEF (Islamic Education Festival)..

IsEF adalah rangkaian acara karya anak GAMAIS ITB angkatan 2009. (GAMAIS = Keluarga Mahasiswa Islam – red). Memang, tiap tahun, mahasiswa Muslim ITB tingkat 1 diberi amanah untuk mengadakan suatu event bagi massa kampus. Seperti halnya angkatanku dulu mengadakan 3 acara, yakni ESQ, KIT, dan Gamais Peduli (GP). Pada tahun ini, angkatan 2009 menunjukkan kekompakannya dalam event IsEF dengan tema “Great Solution for Great Civilization”

Pak Taufik Ismail sedang membacakan puisinya.. Maaf kurang jelas, motretnya dari jauh sih..

Pagi itu, saat saya datang, acaranya adalah seminar motivasi membaca oleh Pak Taufiq Ismail.. Ya, nama yang sudah cukup melegenda. Saya menyaksikan sang maestro, sastrawan dan budayawan Indonesia itu memberikan nasihat kepada kami tadi.. Memotivasi kami untuk terus membaca, menggali ilmu, dan mengaplikasikannya demi peradaban yang lebih baik.

Di akhir acara, Pak Taufiq membacakan beberapa puisinya.. Salah satunya adalah puisi KKdDB di bawah ini:

“KUPU-KUPU DI DALAM BUKU”

Ketika duduk di setasiun bis, di gerbong kereta api,

di ruang tunggu praktek dokter anak, di balai desa,
kulihat orang-orang di sekitarku duduk membaca buku,
dan aku bertanya di negeri mana gerangan aku sekarang,

Ketika berjalan sepanjang gang antara rak-rak panjang,
di perpustakaan yang mengandung ratusan ribu buku
dan cahaya lampunya terang benderang,
kulihat anak-anak muda dan anak-anak tua
sibuk membaca dan menuliskan catatan,
dan aku bertanya di negeri mana gerangan aku sekarang,

Ketika bertandang di sebuah toko,
warna-warni produk yang dipajang terbentang,
orang-orang memborong itu barang
dan mereka berdiri beraturan di depan tempat pembayaran,
dan aku bertanya di toko buku negeri mana gerangan aku sekarang,

Ketika singgah di sebuah rumah,
kulihat ada anak kecil bertanya pada mamanya,
dan mamanya tak bisa menjawab keinginan-tahu puterinya, kemudian
katanya,
“tunggu, tunggu, mama buka ensiklopedia dulu,
yang tahu tentang kupu-kupu,”
dan aku bertanya di rumah negeri mana gerangan aku sekarang,

Agaknya inilah yang kita rindukan bersama,
di setasiun bis dan ruang tunggu kereta-api negeri ini buku dibaca,
di perpustakaan perguruan, kota dan desa buku dibaca,
di tempat penjualan buku laris dibeli,
dan ensiklopedia yang terpajang di ruang tamu
tidak berselimut debu
karena memang dibaca.

Selanjutnya adalah pendapat pribadi dari saya mengenai puisi ini. Berhubung subjektif, jadi mohon dimaafkan dan dikoreksi andaikan tidak sesuai.
Sangat jelas bahwa puisi ini menekankan akan pentingnya membaca bagi kehidupan. Sampai-sampai kesadaran untuk membaca di mana saja, dianggap sebagai sebuah pemandangan yang sangat dirindukan bersama. Buku adalah jendela dunia, sehingga akan membuka wawasan pembacanya. Bahkan ayat-ayat pertama dari AlQur’an pun adalah perintah untuk membaca.. Jadi tidak diragukan lagi esensi dari membaca.

Namun permasalahannya, apakah itu terjadi di Indonesia????????????
Perhatikan, tiap bait diakhiri dengan ‘dan aku bertanya di negeri mana gerangan aku sekarang‘. Menandakan bahwa peristiwa2 itu seakan memang tidak terjadi di negeri ini..
Lihat saja sekeliling kita, seberapa besar sih kesadaran bangsa ini untuk membaca dan belajar?? Silakan berkaca pada diri kita masing-masing. Saya sendiri mengakui, meskipun hobi saya membaca dan koleksi buku saya cukup banyak, saya tidak punya cukup banyak waktu untuk membacanya.. Mungkin kapan-kapan saya akan share tentang buku-buku yang telah menginspirasi saya, Insya Allah..

Selanjutnya, diksi “kupu-kupu” pada puisi di atas kemungkinan  adalah representasi dari kehidupan manusia (mungkin lho, sotoy ya).. Seekor ulat harus menghadapi perjuangan panjang untuk menjadi kupu-kupu. Begitu juga manusia, harus menelan beragai asam garam kehidupan baru bisa menikmati hidupnya.. Kita harus banyak belajar untuk berhasil menjadi “kupu-kupu”

Sebagai makhluk Allah, kita diwajibkan untuk membaca. Bukan hanya sekedar buku, tetapi lebih dalam lagi, membaca hikmah-hikmah yang dapat dipetik dari semua ciptaan Allah. Ingat, ilmu kita hanyalah setetes air di samudra.. Terus kembangkan wawasan kita.. Aplikasikan ilmu yang didapat untuk kemaslahatan umat manusia..
Bisa?? BIISAAAAAA…..

bersambung..
//baca postingan lanjutannya yaaaa… thx

Advertisements

One comment on “IsEF Part I: Motivasi Membaca dari Pak Taufiq Ismail

  1. Pingback: IsEF Part II: Gamais Award « H2c-X

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s