Üçüncü. Yang Jadul, dan Yang Pintar

Tau Benteng Vredeburg? Tau Taman Pintar?

Yak, itulah destinasi jalan-jalan kami pada hari ketiga ketika di Jogja.

Ok, di tulisan-tulisan sebelumnya sudah saya kisahkan 2 hari pertama perjalanan bersama kawan-kawan SMA. Dan inilah bagian terakhir, agenda 3 Agustus 2010.

  • Benteng Vredeburg

Ini bukan Benteng Takeshi, bukan Benteng Catur, apalagi Benteng Kecil di Langit yang Tinggi. Ini adalah Benteng Vredeburg, dan bukan merupakan benteng biasa. Benteng yang merupakan peninggalan Belanda itu sekarang telah dijadikan museum. Benteng yang selesai dibangun tahun 1787 itu, dulu namanya ‘Rustenburg’ yang berarti ‘Benteng Peristirahatan’. Lalu (lupa tahun berapa) dilakukan pemugaran dan diganti namanya menjadi Vredeburg yang artinya ‘Benteng Perdamaian’.

Ketika memasuki museum benteng ini, saya serasa diajak kembali ke masa-masa kompeni. Bangunan-bangunan yang masih bernuansa tempoe doeloe. Ditambah dengan diorama-diorama yang menceritakan sejarah negeri ini.

Salah satu diorama di benteng Vredeburg

Saat di sana, terlihat banyak anak-anak sekolah yang sedang study tour. Anak-anak SD itu begitu senang melihat-lihat diorama di sana. Walaupun sebagian ada yang malah main lari-larian, kejar-kejaran, ngesot-ngesotan, dan cakar-cakaran (—> yang ini enggak kok, hehehe…). Bagus lah Benteng Vredeburg ini bisa menjadi salah satu sarana untuk mengingatkan kembali tentang sejarah. Setidaknya dengan mengetahui sejarah negeri ini, kita dapat memahami perjuangan para pahlawan yang meng’upgrade’ bangsa ini dari penjajahan menjadi negeri yang damai dan merdeka.

  • Taman Pintar

Wow, ada dinosaurus!!

Setelah dari museum yang identik dengan masa lampau, kami beranjak menuju masa modern. Yakni ke taman pintar. Walaupun di bilang pintar, sebenarnya taman tersebut tidak pernah bersekolah, membaca buku, apalagi menang olimpiade (apa-apaan sih?!?!). Namun, bagi para pengunjung yang datang ke sana, kalian akan terhibur dengan berbagai wahana menarik yang bisa dimainkan, dan tentu saja.. menambah wawasan. Jadi kayak slogannya Bobo, bermain sambil menghajar. Upz, bermain sambil belajar dink.. (hajar ilmunya maksudnyee, huehehe)

Wahana di taman pintar ini tersebar di beberapa gedung dengan tiket yang berbeda-beda. Ada gedung oval, gedung kotak,.. (apa lagi yaaa? Lupa euy). Namun bagi yang males keluar duit, ga usah khawatir. Karena di halaman luar pun sudah ada banyak wahana edukasi yang disajikan, misalnya dinding berdendang, sistem katrol, dll.

  • Over All

Tidak sia-sia lah Jogjakarta disebut kota pelajar dan kota kebudayaan. Banyak sarana dan pra-sarana yang dapat menunjang kreativitas dan kemampuan kita. Nilai seni dan budaya di sana memang sudah sepatutnya dilestarikan agar kekayaan negeri ini tetap bertahan.

Setelah puas main-main di taman pintar, kami makan siang sambil jalan-jalan di malioboro (tapi gak sempet belanja apa-apa, fufufuu). Dan malamnya kami makan-makan, bersama teman kami yang lain yaitu Rizky ‘Omon’, Ginta, dan Dina.

Itulah malam terakhir kami bersama-sama.. Semoga kapan-kapan diberi kesempatan untuk berkumpul bersama lagi. Dengan teman-teman yang lengkap. Yanuar, iis, kami tunggu kedatangan kalian, huahaha…

Dan keesokan harinya, 4 Agustus 2010, saya pulang kampung ke Sragen. Dan saya mulai menunjukkan gejala mau tepar. Kecapekan kali yaa…

OK, I think that’s all our adventure @Jogjakarta. Mohon maaf kalo banyak event tak sempat dituliskan, banyak kesan tak sempat tersampaikan, banyak hikmah tak sempat tersalurkan.. Semoga untuk selanjutnya, bisa lebih baik lagi..

YOU ARE ALWAYS BE IN MY HEART.. MY FRIENDS!!!

ikinci. Prambanan, I’m in Laugh. Huahaha..

Ehm, bagi yang belum tau, di liburan kali ini saya sempet jalan-jalan ke Jogja bersama teman-teman semasa SMA. Sudah 2 tahun sejak kami lulus, dan baru kali ini berkumpul bersama-sama lagi.

2 Agustus 2010, hari kedua, kami kedatangan 2 pemain tambahan, saudara-saudara. Yang pertama adalah Lorencrut, si astronom yang malah selingkuh sama setrum. Dia baru datang karena, sebelumnya ada acara jalan2 ke Pangandaran. Dan baru tiba di Jogja sekitar tengah malam. Huh, ngganggu mimpi orang sahaja kau Lo, hehehe… Yang kedua adalah oRochimaru, yang baru dateng karena ada rapat dulu.

Kembali ke jalan-jalan, berikut ini agenda kami di hari kedua:

  • Acara bonus: bertemunya para pecinta angka.

Saya sebut acara bonus, karena ini memang diadain secara mendadak. Yakni, reunian para matematikawan pas SMA. Jadi hanya ‘pecinta angka’ yang saat itu ada di Jogja yang menghadirinya. Antara lain: H2c, Sunni, Khoirul, Desi, ditambah Rima, Iwan, Made Tantrawan (Wawan), Toni, dan Satria. Sebagian besar dari mereka masih setia mempelajari lebih jauh tentang ilmu hitung. Aku dan Sunni sudah mengalami sedikit pembiasan menuju dunia informatika. Toni baru saja akan memasuki perkuliahan penuh listrik (hah??!). Dan yang paling mendewi, Rima yang merupakan calon budok-ter (amiiin) -> anomali, hehehe.

  • Prambanan

Ehm, setelah menjelajahi kaliurang di hari pertama, selanjutnya di hari kedua kami mengunjungi Candi Prambanan. Inilah candi yang dibangun oleh Dinasti Sanjaya pada sekitar abad ke-9 (bener gak? Maklum, memori otak terbatas).

Candi Prambanan terletak di perbatasan antara Jogja dengan Klaten. Kami meluncur ke sana dengan TransJogja sebaga sarana transportasi (Jadi Jakarta punya TransJakarta, dan Jogja punya TransJogja. Kapan ya ada Trans Sragen?!?!). Baru pertama kali ini saya naik TransJogja. Menurut saya sarana ini sangat bermanfaat. Sangat membantu bagi orang-orang yang ingin melancong di Jogja, tetapi tidak memiliki kendaraan pribadi. Cukup dengan 3 ribu rupiah, kita bisa menikmati fasilitas ini kemanapun tujuan kita (di Jogja tentunya). Haltenya cukup mudah ditemukan, busnya lumayan nyaman, meskipun jumlah tempat duduk terbatas. Jadi yang tidak kebagian, terpaksa berdiri. Bagi yang penasaran, silakan datang dan rasakan sensasinya (koyo opo wae..).

OK, ada apa di Prambanan? Yang saya lihat adalah kumpulan bebatuan yang tersusun dengan unik membentuk candi. -_-‘

Apa lagi ya yang bisa diceritain dari Prambanan ya? Silakan buku sejarah aja deh, hehehe…

Abis capek berpanas-panasan di sekeliling candi, kami makan siang di salah satu warung yang cukup terkenal di sana, yaitu Sop Ayam Pak Min. Lumayan nikmat lho.. Setelah perut terisi, kami menuju masjid untuk sholat Dzuhur. Setelah itu, melepas lelah di selasar masjid. Enak tenaan, lantainya dingin, hohooo..

Ni yang pada istirahat kok kayak orang tepar semua, hohohoo..

  • AmPlaz

Dari Prambanan, sorenya kami kembali lagi ke Jogja dengan sarana transportasi yang sama. Di sana, kami sholat dulu di FK UGM yang terkenal mendewa itu. Di sana kami kedatangan satu teman lagi, yaitu Rizky ‘Diqit’. Wah, nambah lagi jadi 14 orang.

Acara dilanjutkan dengan makan-makan di Grha Shaba Pramana. Lumayan, menikmati hawa sore n ngliatin orang pada lari-lari. Ada orang2 lagi latian marching band pula.

Di sana, kami memutuskan bahwa acara malam itu adalah NOBAR!! Ya, nonton bareng. Di Ambarrukmo Plaza (AmPlaz ada ‘L’ nya lho..). Karena rencana yang mendadak dan waktu yang sudah petang, satu-satunya film yang available buat ditonton adalah Tekken. Lumayan seru sih, tapi gak tau kalo bagi para akhwat.. Banyak kekerasan sih, hahaha… Gapapa lah, sekali-sekali..

Di malam itu pula, salah seorang sobat kami yang kuncup mendewa terpaksa kembali ke Bandung lebih awal, karena akan briefing training SSDK esoknya. Siapa lagi kalo bukan Ismail Sunni.

Setelah selesai nonton, kami kembali ke tempat tidur masing-masing. Selesailah serangkaian petualangan di hari kedua.

(masih to be continued..)

Sori ya, tata kata nya masih berantakan.. Maklum, dibikin secara ‘rush‘ di warnet. Dah gitu leletnya minta ampyuun.. T.T

Tunggu episode selanjutnya..

Birinci. Welcome to “New York – karto”

Ngayogyakarto..

Kuthone aman, Berhati Nyaman

Kota Seniman, Kota Pelajar, lan Kabudayan

Itulah penggalan lirik salah satu lagu dari Geng Kobra (Ciee KOBRA!!) yang berjudul ’Ngayogyokarto’. Mungkin hanya kalangan tertentu saja yang tahu lagu ini, karena emang pake bahasa Jawa.

Btw, ada apa gerangan kok tiba-tiba saya menyinggung tentang Jogjakarta?

Yapz, tanggal 1-3 Agustus 2010 saya jalan-jalan di Jogjakarta.

Setelah beberapa bulan pertama di masa liburan saya habiskan dengan pelatihan dan Sparta (kaderisasi himpunan) yang cukup bikin puyeng. Finally, di pekan terakhir ini, saya bisa menikmatinya dengan acara jalan-jalan juga . Lumayan lah, mengkonsumsi angin seger buat otak.

Saya ke Jogja dalam rangka reunian dengan teman-teman SMA, khususnya lagi teman-teman sekelas saat aku masih duduk di bangku SMA. Setelah lulus, kami tersebar ke berbagai penjuru dunia. Baik yang kuliah di tanah air seperti ITB, UI, UGM, Undip, dan ITB (kok ITB lagi?!?! =P). Maupun yang sudah go internasional menuju negara di timur tengah yang sering disebut Turki, ada yang di Ankara, Istanbul, hingga Izmir. Jadi bisa dibilang reuni ini berscope internasional, gyahaha.. (minimal bilateral lah)

Senang sekali rasanya bertemu kawan-kawan yang sudah lama tidak bertemu. Apalagi saat bertemu para ‘bule’ yang baru saja kembali ke kampung halamannya. Acara ini memang sudah kami tunggu-tunggu, dan sudah direncanakan sejak beberapa bulan silam. Alhamdulillah terwujud juga.

Perjalanan diawali dengan keberangkatan saya pada Sabtu malam, 31 Juli 2010. Saya naik KA Lodaya bersama Sunni. Sebenarnya saat itu sedang ada prosesi penutupan Sparta tahap I. Yah, sangat disayangkan memang, melewatkan saat-saat yang begitu spesial di Sparta. Tapi ya sutralah, yang penting kami bisa bersenang-senang, huehehe…

Di hari pertama, kami ada 11 orang (awak, Sunni, Arief, Hepi, Khoirul, Ipank, Uli, Dhanik, Desi, Qoni, Utami). Berikut agenda kami di hari pertama (Minggu, 1 Agustus 2010):

  • Tour de’UGM

Berhubung kami menginap di kawasan UGM, serta hari itu adalah Minggu, jadi tujuan pertama kami adalah ‘muter-muter gak jelas di UGM’.

Minggu? Ada apa emangnya dengan hari Minggu di UGM? Di sana ada yang disebut Sunday morning alias sunmor (Weleh, kalo minggu pagi mah dimane-mane juga ada Bang. Ya apa mau dikata, begitulah orang-orang menamainya).

Sunmor ini adalah semacam pasar dadakan yang hanya muncul setiap Minggu pagi yang berlokasi di kawasan Grha Shaba Pramana UGM (Sebuah lapangan olahraga yang guedhe, biasa dipakai orang buat lari-lari, semacam Saraga-nya ITB lah). Jadi kalo Minggu pagi, abis capek olahraga di GSP, bisa jajan di sunmor deh. Lumayan lho, banyak kuliner n pernak-pernik yang harganya tidak terlalu bikin kantong bolong. Emang sih ya, harga barang-barang di Jogja relatif lebih murah. (Gak kayak di B**d**g)

Di sunmor, kami cuma sekedar mampir untuk sarapan dan cuci mata. Setelah itu kami melanjutkan perjalanan ke Masjid Kampus UGM. Cukup megah dan banyak tamannya.

Emang sih, di UGM (serta kebanyakan perguruan tinggi lainnya), areanya cukup luas. Jadi ada banyak tempat buat taman. Terus, jarak dari suatu fakultas ke fakultas lain saling terpisah sehingga bagi orang yang baru pertama ke sana mungkin bingung, bahkan bisa saja nyasar, huehehe. Berbeda dengan ITB yang semua fakultas terletak di satu kompleks yang menyatu.

  • Shrimp-River

Siangnya, kami mengunjungi rumah salah satu teman kami (sebut saja Iqbal a.k.a Ipank / Deve). Setelah itu kami diantar orangtua beliau buat jalan-jalan di Kaliurang serta mencicipi ikan bakar di Muara Kapuas. (makasih pank)

Di Kaliurang, karena sudah sore kami tidak bisa jalan-jalan mendaki gunung. Untunglah ada kereta kelinci yang bersedia membawa kami berkeliling. Setelah itu akhirnya kami pulang ke penginapan masing-masing untuk melepas lelah dan mempersiapkan diri untuk hari esoknya. Terutama saya yang benar-benar ngantuk parah karena malam sebelumnya sama sekali tidak bisa tidur di kereta. Preeeet..

(to be continued)

Seharusnya tulisan ini saya bikin dari dulu-dulu. Tapi biarin dah, baru ketulis sekarang. Maklum, kemaren2 masih di kampung. Udah kondisi tubuh bergejolak.. Leppi aink terlantar di Bandung pulak.. (alasan klasik!!)

Ya berhubung sudah di Bandung, alhamdulillaah kesampeyan juga nulis ini. Kali aja ada yang butuh referensi buat jalan-jalan ke Jogja dan sekitarnya, gyahaha..

Baca juga lanjutannya yak.. suwun